Sabtu, 02 Juli 2011

KEBUTUHAN HIDUP MANUSIA

Oleh : DEDI SUHERMAN
Guru SDN 1 Jati Kec. Batujajar Kab. Bandung Barat

Manusia hidup karena memiliki dua potensi dasar yaitu potensi  fisik, jasmani atau raga dan potensi psikis, rohani atau jiwa. Apabila kedua potensi tersebut berpisah, maka manusia mengalami kematian.
Baik potensi fisik maupun potensi psikis perlu dijaga, dipelihara kesehatannya. Kedua potensi tersebut mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi dengan sempurna. Kebutuhan pisik meliputi kebutuhan material dan seksual, sedangkan kebutuhan psikis meliputi kebutuhan spiritual dan intelektual.
Agar kehidupan manusia berlangsung dengan baik, selamat dan sejahtera di dunia dan di akherat kelak, maka keempat kebutuhan tersebut harus terpenuhi dengan sempurna. Untuk lebih jelasnya penulis mencoba memaparkan masing-masing kebutuhan tersebut.
  1. Kebutuhan Material
Kebutuhan material adalah kebutuhan untuk memelihara kesehatan tubuh manusia. Yang termasuk kebutuhan material adalah sandang (pakaian), pangan (makanan) dan papan (tempat tinggal). Ketiga kebutuhan ini menurut konsep ilmu ekonomi disebut kebutuhan pokok (primer). Mengapa disebut kebutuhan pokok ? Karena ketiga kebutuhan ini harus terpenuhi oleh setiap individu, tidak bisa abaikan.
Manusia perlu pakaian untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan tubuhnya. Disamping itu pakaian berfungsi menjaga kehormatan manusia. Silahkan Anda bayangkan seandainya seluruh manusia tubuhnya tidak ditutupi pakaian, apa jadina ? bagaimanapun tampannya seorang pemuda atau cantik moleknya seorang gadis belia, bila pergi kemanapun tidak memakai sehelai benangpun, maka ketampanan dan kecantikannya tida ada harganya.
Manusiapun perlu makanan dan minuman, untuk mempertahankan kehidupannya sampai ajal datang menjemput. Makanan yang primer dibutuhkan manusia adalah makanan emapt sehat lima sepurna (karbohidrat, protein, vitamin, lemak dan mineral). Makanan yang banyak mengandung gizi dan nutrisi yang seimbang dapat memelihara kesehatan tubuh manusia.
Untuk melindungi diri dan keluarganya manusia juga memerlukan rumah tempat tinggal. Rumah termasuk kebutuhan primer bagi manusia karena menjadi tempat berlindung dari berbagai gangguan dan bahaya. Tempat berlindung dari terik matahari di siang hari, tempat beristirahat dimalam hari, tempat bertetuh dikala hujan, tempat berlindung dari berbagai ancaman dan gangguan.
Manusia yang terpenuhi tiga kebutuhan promernya, maka akan merasakan nyaman dan tenang dalam menjalani kehidupannya.

  1. Kebutuhan Seksual
Kebutuhan seksual termasuk kebutuhan yang urgen bagi manusia, karena pada diri manusia dilangkapi napsu syahwat biologis. Untuk memenuhi dan menyalurkan hasrat biologisnya, syari’at agama mengaturnya dengan pernikahan. Tujuan utama pernikahan adalah untuk menjaga kelangsungan hidup manusia dengan mempunyai anak keturunan. Disamping itu pernikahan berfungsi untuk menjaga harkat martabat dan kehormatan manusia agar jelas silsilah keturunannya.

  1. Kebutuhan Spiritual
Manusia hidup dilengkapi hati atau kalbu. Hati manusia bukan hanya berfungsi sebagai organ tubuh untuk menjaga kesehatan fisik, tetapi lebih dari itu hati manusia berfungsi untuk menanamkan keimanan dan ketaqwaan. Hatipun sama dengan tubuh perlu diberi makanan. Untuk memenuhi kebutuahan spiritual manusia memenuhi hatinya dengan keimanan dan ketaqwaan dengan cara banyak berdzikir.
Berdzikir artinya ingat atau sadar. Jadi manusia hendaklah sering ingat kepada Tuhannya (Allah), dan harus senantiasa sadar bahwa  dirinya diberi tugas untuk beribadah dan menjadi khalifah (pengurus, pengatur dan pemelihara) di muka bumi. Bila manusia hatinya senantiasa ingat kepada Tuhannya (Allah), selalu sadar akan tugas dan fungsinya, maka hatinya akan tenang dan tentram. Hati yang sering digunakan untuk berdzikir akan menguatkan iman dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Firman Allah dalam Q.S. Ar Ra’du : 11 “ “Ketahuilah bahwa berdzikir (mengingat) Allah, hati menjadi tentram”.

  1. Kebutuhan Intelektual
Secara fisik biologis manusia dan hewan tidak jauh berbeda terutama dengan hewan vertebrata (mamalia). Hal yang membedakan manusia dengan hewan adalah manusia dilengkapi akal yang mampu untuk berpikir. Kemampuan berpikirnyalah yang membuat manusia lebih mulia dan terhormat dibanding dengan hewan. Akal manusia yang sering digunakan berpikir akan menhasilkan ilmu. Semakin tinggi ilmu yang dimilikinya maka semakin mudahlah manusia menjalani kehidupannya.
Dengan demikian, manusia yang akan mecapai kebahagian, kesejahteraan dan kedamaian baik di dunia maupun di akherat ialah manusia yang mampu menjaga, memelihara dan memenuhi kebutuhan empat potensi tersebut di atas.
Namun bila kita memperhatikan, bahkan mungkin kita alami ternyata umumnya manusia lebih cenderung mengutamakan untuk memenuhi kebutuhan fisik material (duniawi), kurang bahkan tidak begitu peduli untuk memelihara, menjaga dan memenuhi kebutuhan psikis spiritual (ukhrawi).
Segala aktiftas  yang dilakukan manusia umumnya hanya berlomba untuk mendapatkan kekayaan material (sandang, pangan dan papan), serta mengejar kepuasan seksual, menyalurkan hasrat biologis. Sementara kebutuhan psikis spiritual kadang-kadang tidak begitu diperhatikan bahkan dilupakan.
Padahal Allah swt telah memberikan informasi bahkan peringatan, bahwa kekayaan duniawi bagaimanapun melimpah ruahnya diperoleh oleh manusia, tidak ada artinya bila dibandingkan dengan kenikmatan dan kebahagian akherat. Di dalam Q.S. An Nisaa : 14-15 Allah swt berfirman :
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
Dalam Q.S. Al Mujadalah : 11,Allah swt. memberikan informasi dan motivasi bahwa Allah akan mengangkat derajat manusia yang kuat imannya dan tinggi ilmu pengetahuannya.
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Para pembaca, mari kita sejenak memperhatikan struktur tubuh kita masing-masing, terutama organ atau anggota tubuh yang berfungsi menampung dan menyalurkan empat jenis kebutuhan manusia.
Ketika posisi tubuh manusia berdiri tegak, letak atau posisi alat kelamin manusia untuk menyalurkan hasrat biologis terletak paling bawah, kemudian di atasnya posisi perut/lambung tempat menyalurkan kebutuhan material (pangan). Di atas perut/lambung ada organ hati untuk menanamkan keimanan dan ketakwaan. Posisi paling atas tepatnya pada kepala terdapat organ otak/akal yang berfungsi untuk berfikir agar memperoleh ilmu pengetahuan.
Posisi atau letak organ tubuh seperti di atas merupakan gambaran bahwa pemenuhan kebutuhan fisik biologis amterial dan seksual derajatnya lebih rendah daripada pemenuhan kebutuhan psikis spiritula dan intelektual.
Jadi, siapapun manusia yang tujuan dan orientasi hidupnya hanya mengejar kekuasan dan kesuksesan duniawi, melupakan pemenuhan kebutuhan spiritual dan intelektualnya (iman dan ilmu). Mereka derajatnya sama bahkan lebih rendah derajatnya dari pada binatang. Karena sebagaimana kita ketahui kehidupan binatang hanya dilengkapi organ seksual dan organ pencernaan (lambung), tidak dilengkapi hati yang berfungsi untuk berdzikir dan akal yang berfungsi untuk berpikir.
Allah swt berfirman dalam Q.S. Al A’raaf : 179
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
Para pembaca, bila kita perhatikan fenomena kehidupan sosial kemasyarakatan, berbagai peristiwa penyimpangan, kejahatan, kriminal, korupsi, prostitusi, pornoaksi, pornografi, penipuan, pencurian, perampokan, permusuhan, penindasan, pembunuhan, perusakan alam dan lingkungan, saling berebut posisi pangkat, jabatan dan kedudukan. Faktor penyebab semua itu karena mayoritas manusia lebih cenderung mengutamakan pemenuhan kebutuhan fisik material dan seksualnya, mengabaikan dan melupakan pemenuhan kebutuhan spiritual dan intelektual. Dengan kata lain, manusia umumnya telah dihinggapi penyakit WAHN (hubbu dunya wa karohiyatul maut) mengejar kesenangan dunia, tidak peduli kepada kebahagian akherat, alias terjebak oleh sifat dan faham materialisme, hedonisme dan konsumerisme.
Akibat sifat materialisme, hedonisme, konsumerisme telah merasuki pikiran manusia, maka mereka memegang prinsif Machiaveli yaitu menghalalkan segala cara untuk tercapainya suatu cita-cita. Kaidah-kaidah syari’at agama, norma-norma sulila, dan nilai-nilai etika sudah tidak diperhatikan.
Bila kondisi ini terus terjadi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, dalam berbangsa dan bernegara,  maka akan melahirkan para pejabat yang jahat, para aparat yang khianat, pegawai birokrasi yang suka korupsi, para politikus yang rakus, pelaku kejahatan semakin militan, pelaku kriminal semakin profesional, pornoaksi, pornografi dan prostitusi jadi tradisi, rentenir semakin menbanjir, konglomerat semakin keparat, perbuatan salah menjadi hal yang lumrah. Tidakan amoral dan asusila dianggap biasa.
Sebaliknya manusia yang menegakkan kebenaran dianggap melakukan keonaran, manusia sholeh dianggap makhluk aneh, manusia suci sulit dicari, manusia jujur semakin terkubur, manusia takwa semakin langka, manusia beriman semakin tak kelihatan, para pejuang semakin jarang. Para guru sudah banyak yang tak patut digugu dan ditiru, para akademisi sudah jarang yang berprestasi, para hartawan yang dermawan hanya ada dalam hayalan.
Bila mayoritas manusia sudah tidak memperdulikan kondisi seperti ini, maka kemakmuran hanyalah impian, keamanan dan ketentraman hanyalah lamunan, kesejahteraan dan kebahagian hanyalah angan-angan.
Semoga tulisan sederhana ini dapat menyadarkan semua pihak, agar timbul motivasi untuk memperbaiki diri, agar menambah gairah unbtuk memperkuat akidah dan ibadah, agar timbul usaha berlomba meningkatkan iman dan taqwa. Marilah kita yakini sepenuh hati firman Allah dalam Q.S. Al A’raaf : 96
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Q.S. Huud : 117
Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.
Q. S. Al Israa : 16
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta`ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.
                                          

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar